Mangan Ora Mangan Sing Penting Ngumpul

Artikel Opini

Selamat Tahun Baru 1 Suro Alip1955 dan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1443 Hijriah

Oleh: Bey Sujarwo Atmo Waridjo. S.H., M.H.

Tahun Baru 1 Suro Alip 1955 jatuh pada Selasa, 10 Agustus 2021. Pelaksanaan malam 1 Suro bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1443 Hijriah. Meskipun dilaksanakan secara bersamaan, keduanya ternyata memiliki penentuan yang berbeda dalam persamaan kalender Jawa-Islam.

Secara historis, pencetusan Suro menjadi bulan pertama dalam kalender Jawa – Islam dilakukan oleh Raja Mataram, Sultan Agung. Penyebutan Suro diadaptasi dari Bahasa Arab, ‘asyura’ yang merupakan sebutan bulan Muharram versi masyarakat Jawa sebagaimana dikutip dari buku Misteri Bulan Suro: Perspektif Islam Jawa (2010) (Muhammad Sholikhin).

Pelaksanaan antara Muharram dan Suro bersamaan, walaupun keduanya memiliki tradisi yang berbeda, namun makna dan peristiwa yang terkandung di dalam keduanya, sering diidentikan sama.

Melansir dari berbagai sumber. Sistem penanggalan Jawa yang diprakarsai oleh Sultan Agung ini merupakan bentuk asimilasi dari tiga budaya, yakni Islam, Hindu dan Jawa. Dalam kalender ini, menggunakan sistem kalender hijriah atau qomariyah tetapi dalam penulisan angka tahun memakai tahun Saka. Hal ini karena agar tetap berkesinambungan dengan tahun Saka yang telah dipakai sebelumnya.

Sistem penanggalan ini ditetapkan dan diputuskan sejak 1555 Saka bersamaan dengan 1633 Masehi dan 1043 Hijriah, oleh Sultan Agung Raja Mataram.

Pada Peringatan Tahun Hijriah dan Tahun Saka ini, mari kita ambil hikmah pelajarannya dari persamaan, bukan perbedaannya. Bersatu dalam kebhinekaannya, keberagaman budaya dan agama, inilah ciri kelebihan Bangsa dan Negara kita.
Bhineka Tunggal Ika artinya Berbeda-beda tetapi tetap bersatu dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI)

Dalam kondisi Pandemi saat ini kita butuh semangat untuk bersatu dalam kekuatan, bukan perbedaan yang membuat kita lemah cerai berai. Sebagai Bangsa yang memiliki budaya dan peradaban yang tinggi, kita harus kembali pada kearifan dalam falsafah yang dapat menjadi pedoman dan menguatkan jiwa kita.

Kearifan dan Filosofi Jawa

Filosofi Jawa dipercaya memiliki makna yang mendalam bagi kehidupan. Sebab, masyarakat Jawa yang memiliki budi bahasa dan tutur kata yang baik membuat banyak orang lantas menjadikannya sebagai salah satu pedoman hidup.

Urip Iku Urup (Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik, tapi sekecil apapun manfaat yang dapat kita berikan, jangan sampai kita menjadi orang yang meresahkan masyarakat).

Wening ing cipta, pasrah ing rasa, kanthi sumunarning budhi.
(Hening di dalam cipta, berserah pada panca indera, dengan pancaran hikmah)
Mugya kita sami tansah manggih ing karaharjan.
(Semoga kita selalu menemukan diri kita dalam kemakmuran)
Hamemayu hayuning bawana
(Menjaga, melestarikan. jagad raya, alam semesta, dunia, menjaga keindahan/mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan/kebaikan/kedamaian alam semesta, keindahan benua)
Ambrasta dur Hangkara
(Serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).
Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti.
(Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar)
Wilujeng rahayu kang tinemu banda lan beja kang teka.
(Berbahagialah mereka yang menemukan kekayaan dan berkat yang akan datang)
Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha
(Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan; kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan)
Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
(Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).
Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman
(Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja).
Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman
(Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi).
Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka
(Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah; jangan suka berbuat curang agar tidak celaka).
Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
(Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat).
/Aja Adigang, Adigung, Adiguna*
(Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti).

Alon-alon waton klakon (Filosofi ini sebenarnya berisikan pesan tentang safety. Padahal kandungan maknanya sangat dalam. Yang mengisyaratkan tentang kehati-hatian, waspada, istiqomah, keuletan, dan yang jelas tentang safety).

Nrimo ing pandum (Arti yang mendalam menunjukan pada sikap Kejujuran, keiklasan, ringan dalam bekerja dan ketidakinginan untuk korupsi. Inti filosofi ini adalah Orang harus iklas menerima hasil dari usaha yang sudah dia kerjakan)

Saiki jaman edan yen ora edan ora komanan, sing bejo sing eling lan waspodo (Hanya orang yang ingat kepada Allah (disini saja juga tidak cukup) dan waspada terhadap duri-duri kehidupan yang setiap saat bisa datang dan menghujam kehidupan, sehingga bisa mengakibatkan musibah yang berkepanjangan)

Mangan ora mangan sing penting ngumpul (Makan tidak makan yang penting kumpul) Filosofi ini adalah sebuah peribahasa. Kalimat peribahasa tidaklah tepat kalau diartikan secara aktual. Ini sangat penting bagi kehidupan berdemokrasi. Kalau bangsa kita mendasarkan demokrasi dengan falsafah diatas saya yakin negara kita pasti akan aman, tentram dan sejahtera. ’Mangan ora mangan’ melambangkan eforia demokrasi, yang mungkin satu pihak mendapatkan sesuatu (kekuasaan) dan yang lain pihak tidak. Yang tdk dapat apa-apa tetap legowo. ‘Sing penting ngumpul’ melambangkan berpegang teguh pada persatuan, yang artinya bersatu untuk tujuan bersama)

Saya pikir Filosofi ‘Mangan ora mangan sing penting kumpul’ adalah filosofi yang cocok yang bisa mendasari kehidupan demokrasi bangsa Indonesia di masa Pandemi ini, agar bangsa ini solid bersatu dan tujuan bangsa ini tercapai.

Wong jowo ki gampang di tekuk-tekuk (Filosofi ini juga berupa ungkapan peribahasa yang dalam bahasa Indonesia adalah ‘Orang Jawa itu mudah ditekuk-tekuk)

Ungkapan ini menunjukan fleksibelitas dari orang jawa dalam kehidupan. Kemudahan bergaul dan kemampuan hidup di level manapun baik miskin, kaya, pejabat atau pesuruh sekali pun. Orang yang memegang filosofi ini akan selalu giat bekerja dan selalu ulet dalam meraih cita-citanya.

Pembentukan Karakter adalah kebutuhan mutlak yang utama.

Mengejar kecerdasan Akademik semata hanya akan menjerumuskan diri pada diri sendiri secara nyata. Oleh karena itu, perlu dikejar juga kecerdasan emosional, sosial, dan spiritual agar kesuksesan ada di depan mata.

Bangsa Indonesia bukan tidak butuh orang yang pinter karena bangsa Indonesia sudah banyak orang-orang pinter, namun bangsa Indonesia membutuhkan orang-orang yang punya Karakter beradab sopan santun dan ber-akhlak mulia.

Semoga Indonesia Bertambah Maju.

(TMP/SBY/dbs)

Lihat Juga:

Silahkan Bagikan:

Komentar Anda