Menengok Eksistensi Kepaksian Buay Belunguh Dimasa Lampau

Artikel Lampung Seni Budaya
Silahkan Bagikan:

Lampung7com – Bandar Lampung | Umpu Depati junjungan sakti yang di pertuan sekala bkhak kepaksian Belunguh yang memegang tampuk pemerintahan sebagai Saibatin pada saat itu, bersama para hulubalangnya pergi melawat ke kesultanan Banten, yang saat itu nama kesultanan Banten sangat termasyhur.

Kedatangan Umpu Depati junjungan sakti yang dipertuan sekala bkhak kepaksian Belunguh, di kesultanan Banten bukanlah kunjungan resmi, melainkan kunjungan seperti layaknya orang biasa (inc Gonito).

Rupanya di kota itu sedang terjadi bencana yang di sebabkan oleh seorang anak kecil, yang tidak ketahuan darimana asal usul nya, berjalan hilir mudik di sekeliling negri. Barang siapa yang melihatnya jatuh sakit, kemudian berbagai macam cara serta ikhtiar untuk menangkap atau membunuh anak itu, tapi tidak pernah berhasil.

Rakyat kesultanan Banten telah banyak yang menjadi korban, sehingga Sultan Banten Maulana Hasanuddin mencanangkan sebuah Sayembara yang diumumkan di seluruh pelosok negeri pada saat itu, bahwa barangsiapa yang dapat menangkap hidup atau mati anak kecil yang disebut “SIBUYUH/SEBUYUH” akan diberikan hadiah separuh dari wilayah kesultanan Banten.

Sayembara tersebut sampailah ke seluruh pelosok negeri tidak terkecuali sampai jugalah di telinga Umpu Depati junjungan sakti yang dipertuan sekala bkhak kepaksian Belunguh bersama punggawa dan hulubalang-hulubalangnya.

Mendengar pengumuman bunyi canang itu, Umpu Depati junjungan sakti bersama hulubalang-hulubalangnya, berikhtiar untuk menangkap dan mengalahkan SEBUYUH yang menjadi teror yang menakutkan bagi masyarakat kesultanan Banten.

Ikhtiar dan usahanya tersebut berbuah manis, Umpu Depati junjungan sakti yang di pertuan sekala bkhak kepaksian Belunguh bersama hulubalang-hulubalangnya, akhirnya berhasil menangkap hidup-hidup si pembuat teror tersebut.

Kesaktian SEBUYUH dapat dihambarkan oleh Umpu Depati junjungan sakti, namun pada saat akan di hukum mati, ternyata SEBUYUH tersebut kulitnya kebal dan tidak mempan di makan senjata.

Sampai masyarakat putus asa, karena semua senjata yang mereka gunakan tidak ada satupun yang dapat melukai kulit dari sebuyuh. Akhirnya Umpu Depati junjungan sakti menggunakan sebilah keris pusaka dari kepaksian Belunguh yang di beri nama “SENANTAN KHANGUH”.

Dengan menggunakan keris tersebut akhirnya kepala sebuyuh dapat dipisahkan dari badannya, yang kemudian badan sebuyuh itu dibagi-bagi kn kepada masyarakat, sedangkan kepalanya diambil oleh Umpu Depati junjungan sakti untuk di bawa ke sekala bkhak.

Sampai saat ini tengkorak kepala sebuyuh tersebut bersama keris pusaka Senantan KHANGUH masih tersimpan di kenali oleh Jurai kepaksian Belunguh sebagai kenangan di masa silam.

Keberhasilan dari Umpu Depati junjungan sakti tersebut menjadi kabar bahagia bagi sultan Banten, dan rakyat kesultanan Banten. Kemudian sultan Banten memanggil Umpu Depati junjungan sakti beserta para hulubalang nya, dengan tujuan memenuhi janjinya untuk menyerahkan separuh wilayah kesultanan Banten kepada Umpu Depati junjungan sakti. Namun pemberian itu di tolak oleh Umpu Depati junjungan sakti, kemudian Umpu Depati junjungan sakti menerangkan tentang status kebangsawanan nya di sekala bkhak sebagai seorang Raja, karena sultan Banten tidak mau mengingkari janji nya, maka pemberian dan rasa terima kasih nya di nyatakan dengan cara lain, yaitu mengangkat Umpu Depati junjungan sakti sebagai SAUDARA, dan sampai ke anak cucu nya kelak di anggap sebagai Bangsawan kesultanan Banten dan ditandai dengan pemberian beberapa pusaka dari kesultanan Banten yaitu :

Sarung keris besar (TERAPANG) yang hampir 2 hasta panjangnya, yang terbuat dari Emas, dan di tatah dengan ukiran- ukiran yang bagus, mata keris nya tinggal pada sultan Banten, dan manakala kelak di kemudian hari ada orang membawa sarung keris yang jenisnya sama dengan yang diberikan oleh Sultan Banten, dan sesuai ketika disarungkan, maka itu pertanda bagi sultan/anak cucunya, bahwa sipembawa sarung keris tersebut merupakan keturunan dari Saudara nya yaitu Umpu Depati junjungan sakti, yang harus diperlakukan sama dengan keluarga kesultanan Banten.

Sewaktu zaman Pangeran jaya di Lampung, anaknya Ahmad Safe,i suttan Ratu Pikulun beserta adiknya Berlian Raja penggalang Paksi, semasa beliau masih sekolah di Batavia, mampir di Banten dengan membawa sarung TERAPANG dan dicocokkan dengan kerisnya, ternyata pas sekali.

Selain dari pada itu, anugerah yang di berikan oleh Sultan Banten di antaranya:

  1. Satu keris yang sarung dan gagang nya terbuat dari Emas.
  2. Ikat pinggang dengan Badung nya terbuat dari Emas berukir.
  3. Dua gelanggang bung berlilit Emas Hilang pada zaman Belanda tahun 1938. (Tempat Tembakau diberikan sebagai tanda mata kepada Residen Bengkulu ketika beliau akan berangkat ke Belanda tahun 1932).
  4. Pasung kebesaran atau payung Agung.
  5. Tunggul atau panji-panji kesultanan yang hampir 10 meter panjangnya.
  6. Dll.

Barang-barang pusaka tersebut sebagian masih sering dipakai oleh Umpu Depati junjungan sakti, yang di pertuan sekala bkhak dalam perhelatan adat di Paksi pak skala bekhak. Dari perjalanan Umpu Depati junjungan sakti melawat ke Banten berabat- abat kemudian ke tempat-tempat yang pernah dilewati nya, telah berdiri kampung-kampung yang besar, bahkan ada yang telah berbentuk marga, seperti di Kagungan (kota Agung) menjelma menjadi marga Belunguh di kota agung.di gedung Pakuon telah berdiri 3 marga teluk Betung. 3 marga way handak, dan 5 Pekon di Cikoneng pantai Banten. | Pinnur

Sumber : YM. Suttan Junjungan Sakti Yang Ke 27.

Silahkan Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.