Bank Indonesia

LAMPUNG7COM | Kinerja perekonomian Provinsi Lampung pada triwulan II 2022 tumbuh dengan kuat mencapai 5,22% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,96% (yoy). Pertumbuhan perekonomian pada triwulan laporan ditopang oleh peningkatan kinerja Konsumsi Rumah Tangga (RT), Investasi (PMTB), dan ekspor yang tercermin pada meningkatnya kinerja lapangan usaha (LU) Perdagangan Besar dan Eceran, LU Industri Pengolahan, dan LU Industri Pertanian. Perkembangan tersebut juga sejalan dengan perekonomian provinsi Lampung yang tumbuh 9,12% (qtq), meningkat jika dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 0,86% (qtq).

Secara nominal, perekonomian Lampung pada triwulan II 2022 berdasarkan ADHB tercatat sebesar Rp105,10 triliun dan berdasarkan ADHK (2010) sebesar Rp66,39 triliun. Pencapaian tersebut secara spasial menempatkan Lampung di peringkat ke-2 dari 10 provinsi di Sumatera pada triwulan II 2022.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Lampung ditopang oleh peningkatan Konsumsi RT, ekspor, dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Peningkatan kinerja Konsumsi RT terutama didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat Lampung di tempat ritel dan rekreasi, tempat belanja dan farmasi, taman, tempat transit, dan tempat kerja sejalan dengan berlangsungnya momen Hari Besar dan Keagamaan Nasional (HKBN) Idul Fitri 1443 H pada triwulan II 2022. Hal ini juga tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang tercatat sebesar 130,17, lebih tinggi dibandingkan IKK pada triwulan II 2021 sebesar 120,83.

Peningkatan kinerja ekspor yang tumbuh sebesar 7,38% (yoy)

Selanjutnya, peningkatan kinerja ekspor yang tumbuh sebesar 7,38% (yoy) juga turut mendorong pertumbuhan ekonomi Lampung pada triwulan II 2022. Peningkatan kinerja ekspor terutama didorong oleh peningkatan volume ekspor batubara yang disebabkan oleh meningkatnya permintaan batubara Tiongkok dan Eropa sejalan dengan kinerja industri padat energi Tiongkok yang mulai ekspansif pada Juni 2022 dan meningkatnya pengetatan larangan ekspor energi bagi Rusia.

Lebih lanjut, peningkatan kinerja PMTB pada triwulan II 2022 terutama didorong oleh peningkatan jumlah proyek yang berada dalam tahap konstruksi sejalan dengan akselerasi pembangunan masjid dan krakatau park pada Bakauheni Harbour City (BHC) serta meningkatnya realisasi belanja modal pemerintah daerah.

Di sisi Lapangan Usaha (LU), pertumbuhan perekonomian Provinsi Lampung triwulan II 2022 terutama didorong oleh kinerja positif dari 3 (tiga) LU utama Provinsi Lampung, yakni LU Perdagangan Besar dan Eceran, LU Industri Pengolahan, dan LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang masing-masing tumbuh sebesar 14,55% (yoy), 8,42% (yoy), dan 2,49% (yoy).

Didorong oleh peningkatan permintaan

Pertumbuhan LU Perdagangan Besar dan Eceran, terutama didorong oleh peningkatan permintaan pada periode HBKN Idul Fitri 1443 H yang tercermin dari peningkatan omset pelaku usaha sebesar 22,68% (yoy) pada Survei Pedagang Eceran (SPE) Bank Indonesia. Peningkatan permintaan yang lebih tinggi untuk LU Perdagangan Besar dan Eceran pada triwulan laporan juga didukung oleh penambahan jumlah dealer mobil dan penyelenggaraan beberapa event strategis No. 24/572/Bdl/Srt/B di Provinsi Lampung, yaitu Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), International World Surfe League (WSL) Krui Pro, dan puncak acara Bangga Buatan Indonesia (BBI) Lagawi Fest.

Lebih lanjut, peningkatan kinerja LU Industri Pengolahan terutama didorong oleh peningkatan produksi industri makanan dan minuman sejalan dengan meningkatnya permintaan pada triwulan laporan serta adanya perbaikan produksi TBS kelapa sawit yang mendukung peningkatan utilisasi kapasitas produksi industri pengolahan minyak kelapa sawit. Selain itu, terdapat peningkatan produksi jagung, kedelai, dan ubi kayu di tengah terkontraksinya produksi padi pada triwulan laporan sehingga turut mendorong kinerja LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan.

Di sisi lain, perbaikan kinerja perekonomian Provinsi Lampung dari sisi LU tertahan oleh terkontraksinya kinerja LU Pertambangan dan Penggalian, LU Administrasi Pemerintahan, serta LU Informasi dan Komunikasi. Pada triwulan II 2022, pertumbuhan LU Pertambangan dan Penggalian tercatat mengalami kontraksi sebesar 4,57% (yoy), terutama disebabkan oleh berlanjutnya penurunan produksi minyak bumi di Lampung Timur sejalan dengan telah berlalunya masa produktif blok migas yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES).

Selain itu, LU Administrasi Pemerintahan tercatat mengalami kontraksi sebesar 4,81% (yoy) akibat penurunan belanja pegawai dan belanja bantuan sosial Pemerintah Daerah. Lebih lanjut, LU Informasi dan Komunikasi tercatat mengalami kontraksi sebesar 2,52% (yoy) akibat penurunan permintaan penggunaan layanan teknologi digital seiring meningkatnya aktivitas tatap muka di Provinsi Lampung.

Perbaikan kinerja ekonomi Provinsi Lampung terus berlanjut

Ke depan, perbaikan kinerja ekonomi Provinsi Lampung diperkirakan terus berlanjut, meski risiko dari sektor eksternal perlu diwaspadai. Eskalasi tensi geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang mendorong terjadinya kenaikan harga komoditas energi dan bahan pangan dunia berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, menahan pemulihan daya beli masyarakat, serta menghambat aktivitas perdagangan.

Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama dan koordinasi yang erat dari seluruh pihak dalam rangka menjaga momentum perbaikan sekaligus peningkatan kinerja ekonomi.

Pertama, memperkuat sinergi kebijakan dengan antar stakeholders di Provinsi Lampung dalam rangka mempercepat akselerasi program vaksinasi dan pembukaan sektor prioritas untuk menjaga stabilitas makroekonomi dengan tetap mendukung upaya pemulihan ekonomi daerah.

Kedua, meningkatkan produktivitas Lapangan Usaha Pertanian, terutama subsektor tanaman pangan, melalui peningkatan pemanfaatan alat dan mesin pertanian (ALSINTAN) dan benih berkualitas, penguatan askes pembiayaan procyclical bagi Petani, serta memastikan ketersediaan pupuk berkualitas di Provinsi Lampung di tengah tereskalasinya tensi geopolitik antara Rusia dan Ukraina.

Ketiga, mendorong sinergi pemulihan dan penguatan struktur Industri Pengolahan, terutama terkait ketersediaan bahan baku berkualitas, debottlenecking permasalahan logistik, dan percepatan pemulihan stabilitas finansial, dalam rangka menopang pertumbuhan ekonomi yang kuat, seimbang, dan berkelanjutan melalui delapan langkah strategis.

Keempat, mendorong berlanjutnya peningkatan konsumsi rumah tangga dengan menjaga pemulihan daya beli masyarakat yang dapat dilakukan dengan optimalisasi peran TPID dalam rangka pengendalian inflasi, percepatan pemanfaatan dana desa, realisasi bantuan sosial/subsidi dan program perbaikan kesejahteraan terutama yang menyasar pada UMKM dan MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah), termasuk akselerasi digitalisasi sistem pembayaran untuk mendorong pemulihan ekonomi serta percepatan ekonomi dan keuangan yang inklusif dan efisien melalui perluasan penggunaan QRIS dan intensifikasi program elektronifikasi.

Selanjutnya yang kelima, mendorong pertumbuhan investasi dengan menjaga persepsi positif investor swasta dan mengoptimalkan peran linkage IRU-RIRU-GIRU dan Forum Investasi Lampung (FOILA). Hal tersebut dapat dilakukan melalui perbaikan iklim kemudahan berusaha termasuk aspek informasi (transparansi, kemudahan akses, kelengkapan, kekinian dan akurasi); aspek regulasi (kepastian, kejelasan, keselarasan, sederhana dan insentif investasi); aspek komunikasi dan program (strategi promosi dengan public relation yang handal, jejaring investor domestik dan internasional yang luas, serta visi, program dan timeline yang jelas); termasuk memperkuat sinergi antar Pemerintah Daerah dan pemangku kepentingan terkait investasi, salah satunya melalui pembangunan kawasan industri dengan infrastruktur yang memadai sehingga dapat menarik minat investor; mempercepat penyempurnaan OSS RBA, terutama integrasi dengan dinas/lembaga dan kelengkapan fitur, serta regulasi pendukung di daerah agar implementasi OSS-RBA dapat dioptimalkan untuk mendukung capaian peningkatan target investasi kedepan; pendataan proyek investasi yang clean and clear untuk dipromosikan terhadap investor.

Keenam, penguatan Local Value Chain (LVC) dan sinergi program untuk Gerakan Bangga Buatan Indonesia (GBBI) dan Presidensi G20 Indonesia 2022 dengan mengidentifikasi potensi sumber-sumber baru pertumbuhan ekonomi antara lain melalui optimalisasi Local Value Chain (LVC) sebagai strategi dalam mendorong percepatan pemulihan ekonomi di daerah, dan tidak terbatas pada sektor pertanian pangan, namun termasuk sektor lainnya yaitu pertambangan, perkebunan, dan industri. Penguatan LVC tersebut diantaranya dengan membentuk klaster-klaster ekonomi baru atau eksosistem dimana korporasi dapat berperan sebagai aggregator dan offtaker.

Ketujuh, perlu juga upaya untuk meningkatkan partisipasi Industri Kecil Menengah (IKM) dalam LVC dan Global Value Chain (GVC) melalui sinergi kebijakan pengembangan IKM antar instansi.

Kedelapan, pemantauan indikator terkini ekonomi daerah (Early Warning System) 2 yang akurat dan terkini untuk memantau denyut perekonomian daerah. Kesembilan, sinergi kegiatan dalam rangka mendukung Program Gerakan Bangga Buatan Indonesia (GBBI), termasuk dalam kaitannya menyukseskan 6 (enam) agenda prioritas jalur keuangan Presidensi Indonesia pada G20 tahun 2022 yang disusun melalui Calendar of Event. | rls

Tulis Komentar Anda