Kategori
Opini

[Opini] Keramasan di Pantai dan Sungai, Tradisi Ramadan yang Kian Populer di Kalangan Anak Muda Lampung

Setiap menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat di Indonesia memiliki tradisi yang unik dan sarat makna: keramasan. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan penuh ibadah.

Secara filosofis, keramasan bukan sekadar membersihkan rambut atau mandi bersama. Ia mengandung makna spiritual yang dalam sebuah perlambang membersihkan diri lahir dan batin agar siap menyambut Ramadan dengan hati yang lebih jernih.

Karena itu, sejak dulu masyarakat biasanya melaksanakan keramasan di tempat yang memiliki unsur air mengalir, seperti pantai, sungai, mata air alami, hingga pemandian tradisional. Air yang mengalir diyakini melambangkan proses membuang segala kotoran, baik secara fisik maupun simbolik.

Namun, dalam perkembangan zaman, tradisi ini mengalami transformasi yang cukup signifikan. Keramasan kini tidak hanya dipandang sebagai ritual budaya, tetapi juga berkembang menjadi tren sosial, terutama di kalangan muda-mudi.

Fenomena ini terlihat setiap tahun menjelang puasa. Pantai, sungai, kolam wisata, dan lokasi pemandian alam dipenuhi kelompok remaja yang datang bersama teman-teman. Selain keramas, mereka menjadikan momen tersebut sebagai ajang rekreasi, berkumpul, hingga membuat konten media sosial.

Perubahan ini menunjukkan bahwa tradisi masih hidup dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Generasi muda tetap melestarikan praktik keramasan, meskipun dengan pendekatan yang lebih modern dan sosial.

Namun di sisi lain, muncul tantangan tersendiri. Makna spiritual keramasan perlahan berpotensi memudar jika hanya dipahami sebagai kegiatan hiburan musiman. Tradisi yang awalnya sarat nilai refleksi diri bisa berubah menjadi sekadar kegiatan seremonial tanpa pemahaman filosofis.

Padahal, esensi utama keramasan adalah kesiapan mental dan spiritual menyambut Ramadan bukan sekadar ritual fisik atau kegiatan ramai-ramai di tempat wisata air.

Karena itu, peran keluarga, tokoh adat, dan masyarakat sangat penting untuk terus menanamkan nilai budaya di balik tradisi ini. Generasi muda perlu memahami bahwa keramasan bukan hanya tentang air yang membasahi tubuh, tetapi juga tentang kesadaran membersihkan hati.

Jika makna tersebut tetap dijaga, tradisi keramasan akan terus menjadi identitas khas masyarakat Lampung sebuah warisan budaya yang mampu menjembatani nilai spiritual, kearifan lokal, dan dinamika kehidupan modern.

Oleh: Jeffri Noviansyah
Pemimpin Redaksi Lampung7.com

Oleh Redaksi

LAMPUNG7COM hadir berawal dari ide para generasi muda, tanggap dengan dengan problema yang ada disekitar. LAMPUNG7COM menggiat misi informasi utama tentang lampung baik dari para pengambil kebijakan, pebisnis, kalangan profesional, dan khalayak luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *