Lompat ke konten
Selamat Membaca | Bank Indonesia: Rupiah Masih Undervalued, Perry Warjiyo Sebut Tekanan Dipicu Faktor Global

Bank Indonesia: Rupiah Masih Undervalued, Perry Warjiyo Sebut Tekanan Dipicu Faktor Global

Seorang petugas menunjukan pecahan Dolar AS dan Rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang asing di Kwitang, Jakarta, Senin (9/12/2024). Foto: kumparan

Jakarta Bank Indonesia (BI) menegaskan nilai tukar rupiah saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya (undervalued) jika dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi faktor global dan meningkatnya premi risiko di pasar keuangan internasional.

“Bank Indonesia memandang nilai tukar rupiah telah dinilai rendah dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia, termasuk konsistensi pengendalian inflasi sesuai sasaran 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027,” ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (19/2/2026).

Rupiah Melemah di Tengah Ketidakpastian Global

Berdasarkan data per 18 Februari 2026, rupiah tercatat berada di level Rp16.880 per dolar AS, atau melemah sekitar 0,56 persen dibandingkan akhir Januari 2026.

Perry menjelaskan, secara fundamental rupiah seharusnya lebih stabil bahkan cenderung menguat karena:

  • Inflasi terjaga dalam target BI

  • Pertumbuhan ekonomi stabil

  • Imbal hasil domestik relatif menarik

Namun, tekanan jangka pendek masih muncul akibat faktor eksternal seperti ketidakpastian global dan meningkatnya kebutuhan valas korporasi domestik.

Untuk meredam volatilitas, BI meningkatkan intensitas stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar offshore non-deliverable forward (NDF), transaksi spot, dan DNDF di pasar domestik.

Selain itu, BI juga memperkuat strategi dengan menarik aliran modal asing melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).

Dalam dua bulan terakhir, arus masuk modal asing menunjukkan tren positif yang dinilai mendukung stabilitas rupiah.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyampaikan BI juga memperkuat strategi jangka menengah melalui pendalaman pasar valas.

Salah satunya dengan mendorong transaksi rupiah terhadap yuan melalui skema Local Currency Transaction (LCT) dalam perdagangan bilateral dengan Tiongkok.

Langkah ini bertujuan:

  • Mengurangi ketergantungan pada dolar AS

  • Memperluas suplai valas domestik

  • Menarik minat investor asing

Data menunjukkan inflow ke SRBI telah mencapai Rp31 triliun dan ke SBN sekitar Rp530 miliar. Secara keseluruhan, arus masuk modal year-to-date tercatat sekitar USD1,6 juta.

Dengan kombinasi intervensi aktif, penguatan instrumen moneter, serta fundamental ekonomi yang solid, BI meyakini tekanan terhadap rupiah bersifat sementara.

Seiring meredanya premi risiko global, rupiah diproyeksikan kembali stabil dan bergerak menuju nilai yang mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *