Lompat ke konten
Selamat Baca Berita Online Indonesia dan Internasional Terkini | Berita Indonesia dan Internasional Terkini | Internasional | CEO The Washington Post Will Lewis Mengundurkan Diri Usai PHK Massal

CEO The Washington Post Will Lewis Mengundurkan Diri Usai PHK Massal

Washington DC — CEO sekaligus penerbit The Washington Post, Will Lewis, resmi mengundurkan diri dari jabatannya hanya beberapa hari setelah surat kabar ternama Amerika Serikat itu melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. Pengunduran diri Lewis diumumkan pada Sabtu (7/2/2026) waktu setempat.

Lewis, yang memimpin The Washington Post sejak 2023, digantikan sementara oleh Jeff D’Onofrio, yang sebelumnya menjabat sebagai kepala keuangan perusahaan. Manajemen menyatakan D’Onofrio langsung bertugas sebagai CEO interim.

Dalam surat elektronik kepada staf yang beredar luas di media sosial, Lewis menyebut keputusannya mundur diambil di tengah serangkaian langkah sulit yang ia jalankan selama masa kepemimpinannya.

“Selama masa kepemimpinan saya, keputusan-keputusan berat harus diambil demi memastikan masa depan The Post yang berkelanjutan dan tetap mampu menyajikan jurnalisme berkualitas serta nonpartisan,” tulis Lewis, dikutip dari Reuters.

Pengunduran diri tersebut terjadi tak lama setelah The Washington Post memangkas sekitar sepertiga total tenaga kerjanya. Berdasarkan laporan The New York Times, sekitar 300 dari 800 jurnalis terkena PHK, termasuk hampir seluruh staf luar negeri, tim olahraga, liputan lokal, serta koresponden yang berbasis di Kyiv, Ukraina.

Gelombang Protes dan Kritik Serikat Pekerja

Anggota serikat pekerja bergabung dengan pengunjuk rasa lainnya selama unjuk rasa di luar gedung kantor Washington Post di Washington, DC pada Kamis (5/2/2026). Foto: HEATHER DIEHL/Getty Images via AFP
Anggota serikat pekerja bergabung dengan pengunjuk rasa lainnya selama unjuk rasa di luar gedung kantor Washington Post di Washington, DC pada Kamis (5/2/2026). Foto: AFP

Kebijakan PHK massal itu memicu gelombang protes. Ratusan orang yang terdiri dari jurnalis, karyawan, dan pendukung kebebasan pers menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor pusat The Washington Post di Washington DC pada Kamis (5/2/2026).

Mantan editor eksekutif The Washington Post, Marty Baron, menyebut peristiwa tersebut sebagai “salah satu hari tergelap dalam sejarah salah satu organisasi jurnalisme terbesar di dunia.”

Serikat pekerja The Washington Post Guild juga merespons keras pengunduran diri Lewis. Dalam pernyataannya, serikat menilai kepemimpinan Lewis telah melemahkan institusi jurnalisme tersebut.

“Kepergian Will Lewis sudah lama dinantikan. Warisannya adalah upaya penghancuran salah satu institusi jurnalisme terbesar di Amerika Serikat,” tulis serikat itu, sembari mendesak pemilik perusahaan, Jeff Bezos, untuk membatalkan PHK atau mempertimbangkan menjual surat kabar tersebut.

Respons Jeff Bezos dan Kontroversi Kepemimpinan

CEO Amazon sekaligus pemilik The Washington Post, Jeff Bezos dan pasangannya Lauren Sanchez. Foto: Michael Tran / AFP)
CEO Amazon sekaligus pemilik The Washington Post, Jeff Bezos dan pasangannya Lauren Sanchez. Foto: AFP

Di sisi lain, Jeff Bezos, pendiri Amazon sekaligus pemilik The Washington Post, menyebut pergantian kepemimpinan ini sebagai “peluang luar biasa” bagi masa depan perusahaan. Ia menekankan pentingnya menjadikan data dan respons pembaca sebagai dasar arah redaksi dan model bisnis media ke depan.

“Setiap hari, pembaca memberi kami peta jalan menuju kesuksesan,” ujar Bezos, dikutip Reuters.

Selama masa kepemimpinannya, Lewis juga kerap menuai kritik terkait dugaan intervensi editorial. Salah satu keputusan yang disorot adalah penghentian tradisi dukungan terhadap kandidat presiden Amerika Serikat, yang disebut berdampak pada hengkangnya sekitar 250 ribu pelanggan digital serta kerugian hingga USD 100 juta sepanjang 2024, menurut laporan AFP.

Sejumlah pengamat dan kalangan pers mengkhawatirkan melemahnya The Washington Post dapat berdampak luas terhadap peran media dalam mengawasi kekuasaan, terutama di tengah meningkatnya tekanan politik terhadap kebebasan pers di Amerika Serikat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *