Di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia. Jalur laut sempit ini bukan hanya lintasan kapal tanker, tetapi juga simpul strategis tempat kepentingan geopolitik, energi, dan keamanan global bertemu dalam kondisi yang rapuh.
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia—diperkirakan lebih dari 17 juta barel per hari—melewati Selat Hormuz. Gangguan sekecil apa pun di wilayah ini berpotensi mengguncang pasar energi global, mendorong lonjakan harga minyak, dan memicu dampak berantai terhadap inflasi serta stabilitas ekonomi banyak negara.
Bagi Iran, posisi geografis di sekitar selat tersebut memberi nilai strategis yang besar. Kendali atas salah satu chokepoint terpenting dunia menjadikan Hormuz bukan sekadar perairan, melainkan aset geopolitik bernilai tinggi dalam dinamika hubungan internasional, terutama di tengah tekanan sanksi Barat.
Ancaman penutupan Selat Hormuz kerap muncul dalam retorika politik Teheran. Meski jarang diwujudkan, wacana tersebut membentuk persepsi risiko di pasar global. Dalam geopolitik energi, persepsi sering kali sama kuatnya dengan tindakan nyata karena memengaruhi harga, investasi, dan kebijakan negara-negara pengimpor energi.
Secara teori, penutupan total Selat Hormuz akan memicu krisis energi besar. Pasokan terganggu, harga melonjak, rantai distribusi tersendat, dan ekonomi global bisa terdampak luas. Namun, karena dampaknya juga akan merugikan banyak pihak termasuk kawasan sendiri, langkah ekstrem semacam itu dipandang sebagai opsi terakhir yang penuh konsekuensi politik.
Pengamat menilai Iran cenderung memainkan strategi tekanan terbatas. Aktivitas seperti latihan militer, patroli intensif, atau insiden terhadap kapal di sekitar selat lebih berfungsi sebagai sinyal strategis ketimbang langkah menuju perang terbuka. Pendekatan ini menjaga ketegangan tetap terkendali sekaligus mempertahankan daya tawar diplomatik.
Secara geografis, Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab melalui jalur yang relatif sempit. Kondisi ini membuatnya rentan terhadap gangguan sekaligus mudah menjadi arena tarik-menarik kepentingan militer dan politik.
Di sisi lain, negara-negara Teluk memandang konflik terbuka antara Iran dan Amerika Serikat sebagai skenario berisiko tinggi. Ketegangan bersenjata di sekitar Hormuz dapat memicu gangguan keamanan, guncangan ekonomi regional, dan ketidakstabilan politik yang meluas.
Dalam beberapa dekade terakhir, Iran juga dikenal mengembangkan strategi pertahanan berbasis pendekatan asimetris. Alih-alih hanya mengandalkan kekuatan konvensional, Teheran memperluas pengaruhnya melalui jaringan regional dan berbagai instrumen nonkonvensional, yang dinilai memberi fleksibilitas dalam menghadapi tekanan eksternal.
Kombinasi antara posisi geografis di Selat Hormuz dan pendekatan keamanan tersebut menambah kompleksitas situasi kawasan. Ketidakpastian yang tercipta membuat pasar energi global sangat sensitif terhadap setiap perkembangan, baik berupa insiden nyata maupun pernyataan politik.
Menariknya, selama Selat Hormuz tetap terbuka, arus perdagangan energi dunia masih dapat berjalan. Namun, bayang-bayang potensi gangguan terus membentuk kalkulasi para pelaku pasar dan pemerintah di berbagai negara.
Pada akhirnya, Selat Hormuz bukan hanya jalur distribusi minyak, tetapi juga panggung diplomasi strategis. Di kawasan inilah kekuatan militer, kepentingan ekonomi, dan permainan persepsi bertemu, membentuk dinamika yang memengaruhi stabilitas global jauh melampaui batas geografisnya.