Lampung — Perekonomian Provinsi Lampung menunjukkan kinerja yang solid sepanjang tahun 2025. Pada triwulan IV 2025, ekonomi Lampung tumbuh 5,54 persen (year on year/yoy), meningkat dibandingkan triwulan III 2025 yang tercatat sebesar 5,04 persen (yoy).
Secara nominal, nilai perekonomian Lampung pada triwulan IV 2025 atas dasar harga berlaku mencapai Rp135,95 triliun, sementara atas dasar harga konstan (2010) tercatat sebesar Rp74,24 triliun. Dengan capaian tersebut, pertumbuhan ekonomi Lampung secara kumulatif sepanjang 2025 mencapai 5,28 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2024 yang sebesar 4,57 persen.
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 terutama ditopang oleh permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga dan investasi. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,10 persen (yoy) seiring meningkatnya mobilitas dan permintaan masyarakat pada momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.
Sementara itu, investasi atau Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,41 persen (yoy), didorong oleh realisasi penanaman modal dalam negeri dan luar negeri yang tetap positif. Dari sisi eksternal, kinerja ekspor Lampung tumbuh 2,55 persen (yoy), ditopang meningkatnya permintaan global terhadap komoditas gula dan kembang gula, hasil penggilingan, kopi, serta berbagai produk olahan minyak nabati.
Dari sisi lapangan usaha, akselerasi pertumbuhan ekonomi Lampung pada triwulan IV 2025 terutama didukung oleh kinerja sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang tumbuh 5,65 persen (yoy), sektor Industri Pengolahan sebesar 6,54 persen (yoy), serta sektor Perdagangan Besar dan Eceran yang tumbuh 3,97 persen (yoy).
Kinerja sektor pertanian tumbuh positif seiring meningkatnya produksi jagung dan tandan buah segar kelapa sawit. Sementara sektor industri pengolahan menguat didukung meningkatnya permintaan ekspor pada subsektor makanan dan minuman. Adapun sektor perdagangan tetap solid seiring kuatnya permintaan domestik.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Lampung sepanjang tahun 2025 tercatat 5,28 persen (cumulative to cumulative/ctc). Peningkatan ini didorong oleh pemulihan permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,94 persen (ctc) serta investasi yang meningkat 5,28 persen (ctc). Pertumbuhan konsumsi rumah tangga didukung penguatan daya beli pekerja, terutama di sektor pertanian.
Di sisi lain, kinerja net ekspor mengalami kontraksi sebesar 57,99 persen (ctc), dipengaruhi oleh penurunan permintaan ekspor antar daerah seiring normalisasi produksi komoditas dalam negeri.
Bank Indonesia memprakirakan kinerja positif perekonomian Provinsi Lampung akan berlanjut pada tahun 2026. Pertumbuhan ekonomi Lampung diperkirakan berada pada kisaran 5,0 hingga 5,6 persen, didukung penguatan permintaan domestik serta terjaganya permintaan eksternal.
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi Lampung pada 2026 diperkirakan tetap ditopang sektor-sektor utama, khususnya Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, seiring berlanjutnya sinergi program intensifikasi pertanian oleh pemerintah pusat dan daerah. Selain itu, sektor Industri Pengolahan serta Perdagangan Besar dan Eceran juga berpotensi meningkat seiring optimalisasi ekspansi usaha sepanjang 2025 dan tetap kuatnya arus perdagangan antar daerah.
Ke depan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan melalui tiga strategi utama, yakni penguatan sektor primer dan stabilisasi harga, peningkatan nilai tambah dan investasi sektor unggulan, serta percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan daerah untuk mendukung efisiensi transaksi dan optimalisasi pendapatan asli daerah (PAD).
