Lampung Utara – Kenaikan harga komoditas pertanian seperti gabah, jagung, dan singkong mendorong lonjakan pendapatan petani di Lampung Utara hingga dua kali lipat. Kondisi ini menjadi angin segar bagi sektor pertanian sekaligus memperkuat daya beli masyarakat pedesaan.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, dalam Musrenbang RKPD Kabupaten Lampung Utara Tahun 2027 di Kotabumi, Kamis (26/3/2026).
Kebijakan Harga Dorong Kesejahteraan Petani
Menurut Gubernur, penguatan harga komoditas tidak terlepas dari kebijakan pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto.
Beberapa kebijakan strategis tersebut antara lain:
-
Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah: Rp6.500/kg
-
Harga acuan jagung: Rp5.500/kg (stabil di petani Rp5.500–Rp5.600)
-
Harga Acuan Pembelian (HAP) singkong: Rp1.350/kg
Kebijakan ini dinilai memberikan dampak nyata bagi petani, khususnya di daerah sentra produksi.
Program Desaku Maju Perkuat Ekonomi Desa
Selain harga komoditas, Pemerintah Provinsi Lampung juga menggulirkan Program Desaku Maju untuk meningkatkan nilai tambah dan produktivitas desa.
Program ini mencakup:
-
Bantuan pupuk organik cair (POC)
-
Mesin pengering (dryer)
-
Pelatihan vokasi
“Program Desaku Maju kami hadirkan untuk memastikan desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mandiri dan produktif,” ujar Rahmat Mirzani Djausal.
Desa Wonomarto Jadi Contoh Sukses
Salah satu contoh keberhasilan program ini terlihat di Desa Wonomarto, Lampung Utara:
-
Produksi padi naik dari 994 ton menjadi 1.292 ton
-
Jagung dari 236 ton menjadi 307 ton
-
Singkong dari 20.000 ton menjadi 26.000 ton
Selain itu, penggunaan mesin pengering menghasilkan nilai tambah ekonomi hingga Rp82,98 juta.
Terintegrasi Program Nasional
Program Desaku Maju juga terhubung dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), di mana BUMDes didorong menjadi pemasok bahan pangan.
“Perputaran ekonomi dari program nasional harus dirasakan langsung oleh petani dan UMKM desa,” tegasnya.
Tiga Pilar Pembangunan Lampung Utara
Gubernur menekankan tiga pilar utama percepatan pembangunan:
-
Penguatan SDM
-
Hilirisasi komoditas unggulan
-
Pembangunan infrastruktur
Lampung Utara memiliki potensi besar pada komoditas seperti padi, jagung, singkong, kopi, karet, dan pisang yang perlu dioptimalkan melalui SDM terampil.
Infrastruktur dan Kemiskinan Membaik
Dari sisi infrastruktur:
-
Kemantapan jalan provinsi: 79,79%
-
Jalan provinsi di Lampung Utara: 93,58%
Untuk 2026, dialokasikan:
-
Rp1,98 miliar (jalan desa)
-
Rp40,52 miliar (jalan provinsi)
-
Rp2,1 miliar (pembangunan jembatan)
Sementara itu, angka kemiskinan di Lampung juga menurun:
-
Provinsi: 10% → 9,66%
-
Lampung Utara: turun menjadi 15,78%
Arah Pembangunan 2027
Gubernur menegaskan pentingnya perencanaan pembangunan yang realistis, transparan, dan berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat.
“Perencanaan harus fokus pada program yang berdampak luas dan menjaga konsistensi dari perencanaan hingga pelaksanaan,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pihak untuk menjadikan perencanaan pembangunan sebagai pijakan menuju kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan. (Y)
