Lompat ke konten
Selamat Membaca Rupiah Nyaris Tembus Rp17.700 per Dolar AS, Dunia Usaha Mulai Alarm Bahaya

Rupiah Nyaris Tembus Rp17.700 per Dolar AS, Dunia Usaha Mulai Alarm Bahaya

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan dunia usaha setelah sempat menyentuh level Rp17.606 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi (15/5/2026), sebelum akhirnya sedikit menguat ke posisi Rp17.594 per dolar AS pada siang hari.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta Kamdani, menilai tekanan terhadap rupiah saat ini bukan sekadar gejolak sementara, melainkan bagian dari tekanan global yang berpotensi berlangsung lebih lama.

Menurut Shinta, kenaikan yield US Treasury akibat kebutuhan pembiayaan fiskal Amerika Serikat serta meningkatnya tensi geopolitik global mendorong perpindahan modal ke aset berbasis dolar AS dan memberi tekanan besar terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Tekanan yang terjadi bukan bersifat sementara, tetapi berpotensi berlanjut selama faktor global masih belum mereda,” ujar Shinta.

Dunia usaha disebut mulai merasakan dampak langsung dari pelemahan rupiah, terutama karena industri nasional masih bergantung besar pada bahan baku impor. Sekitar 70 persen bahan baku manufaktur Indonesia diketahui berasal dari luar negeri.

Akibatnya, depresiasi rupiah langsung meningkatkan biaya produksi perusahaan, terutama di sektor petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, hingga manufaktur berbasis energi.

Shinta menjelaskan, kenaikan harga bahan baku seperti nafta telah memicu lonjakan harga resin plastik hingga puluhan persen dan berdampak berantai ke berbagai industri hilir.

“Ini menunjukkan adanya tekanan inflasi biaya atau cost-push inflation yang efeknya meluas ke seluruh rantai pasok,” jelasnya.

Selain tekanan operasional, pelemahan kurs juga memperbesar kewajiban pembayaran utang perusahaan dalam valuta asing. Kondisi tersebut dinilai membebani arus kas korporasi dan meningkatkan risiko keuangan perusahaan.

Di tengah daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, pelaku usaha disebut sulit menaikkan harga jual produk sehingga sebagian besar kenaikan biaya harus ditanggung perusahaan sendiri. Situasi itu berpotensi menekan margin usaha, memperlambat ekspansi, hingga memengaruhi penyerapan tenaga kerja.

Menghadapi kondisi tersebut, dunia usaha mulai menerapkan strategi selektif dalam ekspansi bisnis dan memperkuat langkah mitigasi risiko, termasuk penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging terhadap fluktuasi kurs.

Selain itu, pelaku usaha juga mulai melakukan efisiensi biaya, rasionalisasi belanja modal, optimalisasi modal kerja, serta diversifikasi pemasok untuk mengurangi ketergantungan impor.

Apindo menilai sinergi kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil menjadi sangat penting agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah tekanan global yang semakin kuat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *