Berita Indonesia dan Internasional Terkini

Bupati Lampung Barat dan Rektor Itera Bahas Hibah Lahan serta Peluang Kerja Sama Strategis

Lambar – Bupati Lampung Barat menggelar pertemuan bersama Rektor Institut Teknologi Sumatera (Itera) guna membahas perkembangan…

Hendrie Kurniawan Raih Gelar Doktor Teliti Fungsi Representasi DPRD Pemda

Lampung – Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung (Unila) menggelar Ujian Promosi…

Media Mainstream Tetap Menjadi Rujukan Utama di Tengah Riuh Media Sosial

Oleh: Jeffri Noviansyah
Ketua Umum Komite Pewarta Independen Indonesia (KPII)

Di era digital yang ditandai dengan ledakan informasi, media sosial sering dianggap telah mengambil alih peran media mainstream. Facebook, X, Instagram, TikTok, hingga berbagai platform percakapan instan menjadi ruang baru bagi masyarakat untuk mendapatkan berita secara cepat dan masif. Namun, di balik kecepatan dan kebebasan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah media sosial benar-benar dapat menggantikan peran media arus utama sebagai rujukan informasi publik?

Faktanya, hingga hari ini media mainstream masih menjadi rujukan utama masyarakat, terutama ketika berhadapan dengan informasi strategis, krisis, dan isu yang menyangkut kepentingan publik. Kepercayaan ini bukan hadir secara instan, melainkan dibangun melalui proses panjang yang bertumpu pada etika jurnalistik, verifikasi fakta, dan tanggung jawab sosial.

Media mainstream bekerja dengan prinsip cek dan ricek. Setiap informasi ditelusuri sumbernya, diverifikasi kebenarannya, dan disajikan dengan konteks yang utuh. Di sinilah perbedaan mendasar dengan media sosial, yang lebih mengedepankan kecepatan dan viralitas ketimbang akurasi. Informasi di media sosial sering kali beredar tanpa proses klarifikasi yang memadai, sehingga rawan menimbulkan disinformasi, hoaks, bahkan provokasi.

Masyarakat juga semakin sadar bahwa tidak semua yang ramai dibicarakan di media sosial adalah kebenaran. Dalam situasi genting seperti bencana alam, konflik politik, isu ekonomi, hingga kebijakan pemerintah publik cenderung kembali mencari kepastian pada media mainstream. Media arus utama dipandang lebih kredibel karena memiliki struktur redaksi yang jelas, wartawan yang terverifikasi, serta mekanisme koreksi jika terjadi kekeliruan.

Peran media mainstream juga tidak sekadar menyampaikan berita, tetapi memberikan perspektif, analisis, dan edukasi publik. Berita tidak hanya disajikan sebagai peristiwa, tetapi dijelaskan latar belakang, dampak, dan relevansinya bagi masyarakat luas. Fungsi inilah yang sulit digantikan oleh media sosial yang umumnya bersifat fragmentaris dan emosional.

Meski demikian, media mainstream tidak boleh abai terhadap perubahan zaman. Media sosial tetap menjadi ruang penting dalam distribusi informasi dan interaksi dengan publik. Tantangannya bukan memilih antara media mainstream atau media sosial, melainkan bagaimana media arus utama memanfaatkan media sosial sebagai kanal penyebaran, tanpa mengorbankan prinsip jurnalistik.

Sebaliknya, masyarakat juga dituntut semakin cerdas dalam memilah informasi. Literasi media menjadi kunci agar publik tidak terjebak pada arus informasi yang menyesatkan. Media mainstream, dengan segala keterbatasannya, masih menjadi jangkar kepercayaan di tengah derasnya arus informasi digital.

Pada akhirnya, keberadaan media mainstream bukanlah masa lalu yang tertinggal, melainkan fondasi penting bagi demokrasi dan kehidupan publik yang sehat. Selama kebenaran, verifikasi, dan tanggung jawab tetap dijaga, media arus utama akan tetap menjadi rujukan utama masyarakat bahkan di tengah riuhnya media sosial.

Buku, Hukum, dan Keteladanan Seorang Pendidik

Oleh: Junaidi Ismail, SH | Wartawan Utama

PERNAHKAH Anda berjumpa dengan seseorang yang menginspirasi tak hanya lewat pengetahuannya, tetapi juga sikapnya yang begitu mulia dan penuh kasih? Saya merasa beruntung dapat mengenal Nilla Nargis Yohansyah, S.H., M.Hum., seorang pendidik, penulis, dan sosok ibu yang tak hanya dikagumi, tetapi juga disayangi oleh orang-orang di sekitarnya. Melalui buku-buku yang beliau tuliskan, saya semakin yakin bahwa Nilla Nargis adalah contoh nyata dari seorang pemimpin yang tak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi juga berperan aktif dalam mencapainya.

Pada acara peringatan Hari Ibu yang digelar oleh Pengda Tenaga Pembangunan (TP) Sriwijaya Provinsi Lampung di akhir Desember 2025 lalu, saya berkesempatan menerima tiga buku karya beliau. Buku-buku tersebut memberikan saya pandangan yang lebih dalam tentang siapa Nilla Nargis Yohansyah, bukan hanya sebagai seorang dosen, tetapi juga sebagai pribadi yang memiliki kepedulian mendalam terhadap keluarga, masyarakat, dan hukum.

Salah satu buku yang beliau berikan kepada saya adalah Merawat Hati. Buku ini tidak hanya berbicara tentang pentingnya komunikasi dalam keluarga, tetapi juga bagaimana nilai-nilai spiritual dapat menjadi pondasi untuk membangun sebuah keluarga yang sakinah. Dalam buku ini, Nilla Nargis menekankan pentingnya ketenangan batin dan cara berkomunikasi yang penuh kasih sayang sebagai cara untuk merawat hubungan keluarga, serta membangun keteguhan hati dengan selalu merasa diawasi oleh Allah dalam setiap tindakan kita.
Sebagai seorang ibu dan istri, Nilla Nargis tidak hanya memberi contoh melalui kata-kata, tetapi juga lewat perilaku sehari-hari. Buku ini menjadi panduan bagi siapa pun yang ingin membangun keharmonisan dalam keluarga, dengan menumbuhkan nilai-nilai luhur yang akan membawa kedamaian batin.

Buku kedua, Metamorfosis Kemiskinan, diterbitkan pada tahun 2010 dan membahas tentang kemiskinan sebagai masalah sosial yang tak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga kultural. Buku ini menyajikan kemiskinan dalam dimensi yang lebih luas, mengungkapkan penyebab-penyebab mendalam yang melatari fenomena sosial ini, serta dampaknya yang berlarut-larut terhadap struktur sosial masyarakat.

Menurut Nilla Nargis, kemiskinan bukan hanya sekadar angka atau statistik yang bisa diabaikan, tetapi sebuah masalah yang mempengaruhi banyak aspek kehidupan masyarakat. Buku ini mengajak kita untuk berpikir lebih kritis dan mencari solusi terhadap masalah kemiskinan, dengan memperkuat nilai-nilai moral dan sosial yang ada dalam masyarakat. Bagaimana pendidikan, ketenagakerjaan, serta kebijakan pemerintah dapat berkolaborasi untuk mengatasi masalah ini, menjadi fokus utama dalam pembahasan.

Buku ketiga yang saya terima adalah Sendi-Sendi Hukum Acara Perdata, yang ditulis bersama Hj. Marindowati. Buku ini memberikan pemahaman mendalam tentang hukum acara perdata, sebuah cabang hukum yang sangat penting dalam sistem peradilan Indonesia. Dengan menguraikan konsep-konsep dasar seperti gugatan, mediasi, serta proses hukum lainnya, buku ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa hukum, praktisi, serta siapa saja yang tertarik untuk memahami cara kerja hukum perdata dalam praktik.

Bagi Nilla Nargis, memahami hukum acara perdata bukan hanya soal teori, tetapi tentang bagaimana hukum bisa menjadi alat untuk menegakkan keadilan dalam kehidupan masyarakat. Proses persidangan yang transparan dan adil adalah langkah awal untuk menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera, di mana hak-hak setiap individu dihormati dan dijamin oleh negera.

Nilla Nargis Yohansyah lahir di Tanjung Karang pada 25 Januari 1957, dan telah menempuh perjalanan panjang dalam dunia pendidikan. Dengan gelar Sarjana Hukum dari Universitas Lampung dan Magister Hukum dari Universitas Gadjah Mada, beliau memilih untuk mengabdikan dirinya sebagai dosen di almamaternya, Universitas Lampung.

Namun, kepakaran beliau tidak hanya terbatas pada dunia akademik. Sebagai seorang ibu dari keluarga H. Yohansyah Zakaria dan Hj. Laila Rachma Aziz, Nilla Nargis juga memberikan teladan dalam kehidupan keluarga. Kepedulian beliau terhadap pendidikan, hukum, dan keluarga menunjukkan bahwa beliau adalah sosok yang seimbang antara profesi dan peran sosialnya.

Bagi saya, Nilla Nargis Yohansyah adalah sosok yang mencerminkan integritas, kepedulian, dan dedikasi yang tinggi dalam segala bidang yang beliau tekuni. Ketiga bukunya memberikan gambaran jelas tentang bagaimana beliau tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga mengaplikasikannya utuk kebaikan masyarakat luas. Sebagai seorang pendidik, ibu, dan penulis, beliau adalah inspirasi yang patut dijadikan contoh bagi generasi muda untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi positif bagi bangsa.

Melalui buku-buku ini, Nilla Nargis Yohansyah membuktikan bahwa seorang pendidik bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan memperkuat nilai-nilai yang dapat membawa perubahan nyata. Sebuah penghargaan yang layak diberikan kpada beliau atas dedikasinya dalam membangun bangsa ini lewat dunia pendidikan, hukum, dan keluarga.

TPG Gaji ke-13 dan THR Guru ASN TA 2025 Dipastikan Cair Januari 2026

Kalianda — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan memastikan Tunjangan Profesi Guru (TPG) Gaji ke-13 dan Tunjangan Hari Raya (THR) atau TPG ke-14 Tahun Anggaran 2025 akan dicairkan ke rekening guru Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Januari 2026. Pemkab menegaskan tidak ada dana yang hilang maupun tidak dibayarkan.

Kepastian tersebut disampaikan Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Lampung Selatan, Wahidin Amin, menanggapi keresahan sejumlah guru ASN terkait belum cairnya TPG Gaji ke-13 dan TPG THR di awal tahun 2026.

Isu ini mencuat lantaran di sejumlah daerah lain, pencairan TPG telah lebih dulu direalisasikan. Kondisi tersebut memicu pertanyaan dan kekhawatiran di kalangan pendidik di Lampung Selatan.

TPG Gaji ke-13 dan THR Guru ASN TA 2025 Dipastikan Cair Januari 2026

Wahidin menjelaskan, keterlambatan pencairan bukan disebabkan kelalaian pemerintah daerah, melainkan karena faktor regulasi di tingkat pusat. Dasar hukum pembayaran TPG Gaji ke-13 dan TPG THR Guru ASN Tahun Anggaran 2025 baru ditetapkan melalui Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Republik Indonesia Nomor 372 Tahun 2025 pada 22 Desember 2025.

KMK tersebut mengatur perubahan rincian Dana Alokasi Umum (DAU) Tahun Anggaran 2025 dalam rangka pendanaan THR dan Gaji ke-13 bagi Guru ASN di daerah, dan berlaku secara nasional sebagai acuan seluruh pemerintah daerah.

“Regulasi ditetapkan mendekati akhir tahun anggaran, sehingga secara administrasi tidak memungkinkan proses pencairan diselesaikan sebelum penutupan Tahun Anggaran 2025,” ujar Wahidin, Senin (5/1/2026).

Ia juga menjelaskan, mekanisme pencairan TPG dilakukan melalui transfer dana dari Rekening Kas Umum Negara (RKUN) ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD). Dana tersebut baru diterima Pemkab Lampung Selatan pada 30 Desember 2025.

“Waktu yang tersedia sangat terbatas untuk langsung menyalurkan dana ke rekening masing-masing guru,” jelasnya.

Selain itu, pencairan TPG memerlukan tahapan rekonsiliasi dan validasi data guru ASN penerima yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan sebelum diajukan ke proses pembayaran.

“Saat ini masih dalam tahap rekonsiliasi dan validasi data penerima. Setelah proses tersebut selesai, pencairan segera dilakukan,” tambah Wahidin.

Pemkab Lampung Selatan menegaskan bahwa TPG Gaji ke-13 dan TPG THR merupakan hak guru ASN dan dipastikan tetap dibayarkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Tidak ada dana yang hilang, dialihkan, ataupun dibatalkan pembayarannya.

Pemkab juga mengimbau para guru untuk tetap bersabar dan mengacu pada informasi resmi dari instansi berwenang, serta tidak mudah terpengaruh kabar yang belum terkonfirmasi.

“Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan berkomitmen mengelola keuangan daerah secara profesional, transparan, dan akuntabel. Kami pastikan pembayaran TPG Gaji ke-13 dan TPG THR akan direalisasikan pada Januari 2026,” tegas Wahidin.

Pemprov Lampung Perkuat Mitigasi Bencana Megathrust melalui Kolaborasi Lintas Sektor

LAMPUNG — Pemerintah Provinsi Lampung terus memperkuat upaya mitigasi bencana, khususnya potensi gempa megathrust dan tsunami,…

Pemprov Lampung Tegaskan Tahun 2026 sebagai Tahun Percepatan Pembangunan, Pelayanan Publik dan Kehadiran Negara di Tengah Masyarakat

(pelitaekspres.com) –BANDARLAMPUNG- Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan komitmennya menjadikan tahun 2026 sebagai tahun percepatan pembangunan, pelayanan publik…

Harga Minyak Dunia Turun di Awal Perdagangan Asia, Pasokan Global Dinilai Masih Melimpah

Jakarta — Harga minyak mentah dunia melemah pada awal perdagangan Asia, Senin (6/1), di tengah pasokan…

Neraca Perdagangan Indonesia Diproyeksi Surplus USD 3,08 Miliar pada November 2025

Jakarta — Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan kembali mencatatkan surplus pada November 2025, di tengah perbaikan kinerja…

Fenomena Angkringan Malam di Sepanjang ZA Pagar Alam–Kedaton, Jadi Tongkrongan Favorit Mahasiswa

BANDAR LAMPUNG — Fenomena menjamurnya angkringan malam di sepanjang Jalan ZA Pagar Alam hingga wilayah Kedaton, Kota Bandar Lampung, kian mencuri perhatian. Deretan angkringan yang mulai buka sejak sore hingga larut malam itu kini menjadi destinasi favorit anak muda, khususnya kalangan mahasiswa dan mahasiswi.

Kawasan ZA Pagar Alam–Kedaton memang dikenal sebagai pusat aktivitas mahasiswa. Di wilayah ini terdapat banyak rumah kos dan hunian mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, sehingga membuat angkringan mudah berkembang dan selalu ramai pengunjung.
Dengan konsep sederhana namun nyaman, angkringan menawarkan berbagai menu terjangkau seperti nasi kucing, sate usus, sate telur puyuh, gorengan, hingga aneka minuman hangat dan kopi. Harga yang ramah di kantong menjadi daya tarik utama bagi mahasiswa yang ingin bersantai tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.

Fenomena Angkringan Malam di Sepanjang ZA Pagar Alam–Kedaton, Jadi Tongkrongan Favorit Mahasiswa

Tak hanya sekadar tempat makan, angkringan juga menjadi ruang interaksi sosial. Para pengunjung memanfaatkannya sebagai tempat berdiskusi, mengerjakan tugas kuliah, hingga melepas penat setelah beraktivitas seharian. Suasana santai dan akrab membuat angkringan terasa seperti “ruang publik” alternatif bagi anak muda.

Salah seorang mahasiswa di Bandar Lampung mengaku hampir setiap malam menghabiskan waktu di angkringan sekitar kosnya.

Menurutnya, selain murah, angkringan memberikan suasana yang lebih bebas dan nyaman untuk berkumpul bersama teman-teman.

Menjamurnya angkringan malam ini juga berdampak positif bagi perekonomian warga sekitar. Banyak pelaku usaha kecil memanfaatkan peluang tersebut untuk membuka lapak dan menambah penghasilan, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.

Dengan tingginya minat anak muda, angkringan di kawasan ZA Pagar Alam–Kedaton diprediksi akan terus berkembang dan menjadi salah satu ikon kuliner malam yang melekat dengan kehidupan mahasiswa di Kota Bandar Lampung. [Adm]