Setelah 50 Tahun, Hiu Sailback Houndshark Ditemukan Kembali di Papua Nugini

PAPUA NUGINI – Sekelompok peneliti berhasil menemukan kembali hiu langka sailback houndshark (Gogolia filewoodi) di perairan Papua Nugini. Predator laut ini sebelumnya dianggap “menghilang” dari catatan ilmiah selama lebih dari setengah abad.

Spesies tersebut pertama kali dikoleksi pada 1970 di wilayah utara Papua Nugini dan dideskripsikan secara resmi pada 1973. Namun, setelah itu tidak ada lagi laporan penemuan, bahkan dalam studi ekstensif mengenai hiu dan pari pada 2010-an.

Titik terang baru muncul pada 2020 ketika tim World Wildlife Fund (WWF) mendapatkan foto lima ekor betina mati dari nelayan Madang. Dua tahun kemudian, pada September 2022, seekor jantan dewasa juga berhasil didokumentasikan melalui tangkapan nelayan setempat.

(a) Peta Papua Nugini yang menunjukkan area Teluk Astrolabe dalam kotak kuning, (b) spesimen betina dewasa dan (c) spesimen jantan dewasa G. filewoodi yang ditangkap di dekat muara Sungai Gogol. Foto: Sagumai et al., Journal of Fish Biology, 2025
(a) Peta Papua Nugini yang menunjukkan area Teluk Astrolabe dalam kotak kuning, (b) spesimen betina dewasa dan (c) spesimen jantan dewasa G. filewoodi yang ditangkap di dekat muara Sungai Gogol. Foto: Sagumai et al., Journal of Fish Biology, 2025

Laporan nelayan Bilbil dan Laguna Madang menunjukkan bahwa spesies ini sesekali tertangkap di Teluk Astrolabe. Artinya, G. filewoodi kemungkinan tidak pernah benar-benar punah, melainkan luput dari pantauan penelitian.

Foto dalam studi yang diterbitkan di Journal of Fish Biology (2025) memperlihatkan peta Teluk Astrolabe, spesimen betina dewasa, serta spesimen jantan yang ditangkap di dekat muara Sungai Gogol.

Meski penemuan ini membawa kabar menggembirakan, para peneliti mengingatkan ancaman serius. Hiu sailback houndshark diduga hanya hidup di area kecil sekitar Teluk Astrolabe. Wilayah tersebut kini menghadapi peningkatan aktivitas perikanan, khususnya perdagangan gelembung renang ikan (fish maw), yang membuat spesies ini rawan tertangkap.

“Kemungkinan mikro-endemisme dapat membuat spesies ini sangat rentan terhadap penurunan populasi akibat meningkatnya upaya penangkapan ikan di masa depan,” tulis tim peneliti dalam laporannya.

Saat ini, para ilmuwan bersama pemangku kepentingan lokal mulai membahas rencana pemantauan dan pengelolaan untuk melindungi keberlangsungan spesies langka tersebut.

Tulis Komentar Anda