JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM), Cash Deposit Machine (CDM), dan Cash Recycling Machine (CRM) di Indonesia hingga kuartal III 2025 mencapai 89.774 unit. Angka tersebut menurun dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang tercatat sebanyak 91.173 unit.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan tren penurunan jumlah ATM diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan pesatnya adopsi teknologi digital di sektor keuangan.
“Tidak tertutup kemungkinan tren penurunan jumlah ATM akan berlanjut, seiring meningkatnya penggunaan teknologi informasi di bidang keuangan yang semakin masif,” ujar Dian dalam keterangan tertulis, Senin (26/1).

Menurut Dian, perkembangan layanan perbankan digital memungkinkan nasabah mengakses berbagai transaksi kapan saja dan di mana saja tanpa bergantung pada mesin ATM. Kemudahan tersebut turut mendorong pergeseran perilaku masyarakat menuju transaksi non tunai.
“Kondisi ini secara bertahap mengurangi kebutuhan penggunaan ATM di masyarakat,” jelasnya.
Di sisi lain, Dian menyebut perbankan juga mempertimbangkan efisiensi operasional. Digitalisasi layanan dinilai mampu menekan biaya infrastruktur fisik sekaligus mengoptimalkan proses pelayanan kepada nasabah.
“Peningkatan akses layanan digital mendukung efisiensi operasional perbankan melalui pengurangan biaya infrastruktur dan optimalisasi layanan,” katanya.
Dian menambahkan, sistem pembayaran non tunai atau cashless diproyeksikan semakin dominan ke depan karena dinilai lebih efisien dan mampu mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.
“Skema pembayaran cashless diharapkan dapat mendorong peningkatan aktivitas perekonomian secara berkelanjutan,” pungkasnya.