Barbie Berkolaborasi dengan Aniverable, Hadirkan Rangkaian Parfum dan Body Care Eksklusif

Kolaborasi eksklusif antara Barbie dan merek parfum lokal Aniverable resmi diperkenalkan kepada publik pada 18 Januari…

Pasar Karbon Mandek, Peluang Ekonomi Hijau Indonesia Terancam Hilang

Pasar karbon sejatinya menjadi salah satu pintu strategis bagi Indonesia untuk memasuki era ekonomi hijau yang berkelanjutan. Dengan kekayaan hutan tropis, lahan gambut, dan ekosistem mangrove yang menyimpan cadangan karbon dunia, Indonesia memiliki modal alam yang tidak dimiliki banyak negara. Namun, kemandekan pasar karbon justru membuat peluang besar tersebut terancam terlepas.

Mandeknya pasar karbon tidak terjadi tanpa sebab. Regulasi yang belum sepenuhnya matang, mekanisme perdagangan yang dinilai rumit, serta lemahnya koordinasi antar-lembaga membuat pelaku usaha dan investor bergerak penuh kehati-hatian. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian, padahal perdagangan karbon membutuhkan kepastian hukum dan kejelasan skema jangka panjang.

Akibatnya, Indonesia mulai tertinggal dalam persaingan global ekonomi hijau. Sejumlah negara telah menjadikan kredit karbon sebagai instrumen strategis untuk menarik investasi, mendanai program konservasi, hingga menciptakan lapangan kerja hijau. Sementara itu, Indonesia masih berkutat pada penataan sistem, sehingga potensi ekonomi karbon belum mampu menjadi sumber pertumbuhan baru.

Dampak kemandekan pasar karbon juga dirasakan hingga ke tingkat daerah. Masyarakat lokal dan komunitas adat yang selama ini berperan menjaga hutan belum memperoleh insentif ekonomi yang sepadan. Tanpa manfaat nyata, upaya konservasi berisiko kalah bersaing dengan aktivitas ekonomi konvensional yang menawarkan keuntungan cepat, meski berdampak buruk bagi lingkungan.

Jika situasi ini terus dibiarkan, Indonesia tidak hanya kehilangan peluang ekonomi, tetapi juga momentum untuk memimpin agenda iklim global. Padahal, pasar karbon dapat menjadi jembatan antara kepentingan pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Percepatan kebijakan, penyederhanaan regulasi, serta penguatan pasar karbon domestik menjadi langkah mendesak yang perlu segera dilakukan. Pasar karbon yang berjalan efektif diyakini mampu menggerakkan ekonomi hijau, membuka lapangan kerja baru, dan memperkuat posisi Indonesia di tingkat global. Namun selama pasar tersebut masih mandek, peluang emas itu berisiko hanya menjadi potensi yang tak pernah benar-benar terwujud.

Neraca Perdagangan Indonesia Diproyeksi Surplus USD 3,08 Miliar pada November 2025

Jakarta — Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan kembali mencatatkan surplus pada November 2025, di tengah perbaikan kinerja…

Fenomena Angkringan Malam di Sepanjang ZA Pagar Alam–Kedaton, Jadi Tongkrongan Favorit Mahasiswa

BANDAR LAMPUNG — Fenomena menjamurnya angkringan malam di sepanjang Jalan ZA Pagar Alam hingga wilayah Kedaton, Kota Bandar Lampung, kian mencuri perhatian. Deretan angkringan yang mulai buka sejak sore hingga larut malam itu kini menjadi destinasi favorit anak muda, khususnya kalangan mahasiswa dan mahasiswi.

Kawasan ZA Pagar Alam–Kedaton memang dikenal sebagai pusat aktivitas mahasiswa. Di wilayah ini terdapat banyak rumah kos dan hunian mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, sehingga membuat angkringan mudah berkembang dan selalu ramai pengunjung.
Dengan konsep sederhana namun nyaman, angkringan menawarkan berbagai menu terjangkau seperti nasi kucing, sate usus, sate telur puyuh, gorengan, hingga aneka minuman hangat dan kopi. Harga yang ramah di kantong menjadi daya tarik utama bagi mahasiswa yang ingin bersantai tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.

Fenomena Angkringan Malam di Sepanjang ZA Pagar Alam–Kedaton, Jadi Tongkrongan Favorit Mahasiswa

Tak hanya sekadar tempat makan, angkringan juga menjadi ruang interaksi sosial. Para pengunjung memanfaatkannya sebagai tempat berdiskusi, mengerjakan tugas kuliah, hingga melepas penat setelah beraktivitas seharian. Suasana santai dan akrab membuat angkringan terasa seperti “ruang publik” alternatif bagi anak muda.

Salah seorang mahasiswa di Bandar Lampung mengaku hampir setiap malam menghabiskan waktu di angkringan sekitar kosnya.

Menurutnya, selain murah, angkringan memberikan suasana yang lebih bebas dan nyaman untuk berkumpul bersama teman-teman.

Menjamurnya angkringan malam ini juga berdampak positif bagi perekonomian warga sekitar. Banyak pelaku usaha kecil memanfaatkan peluang tersebut untuk membuka lapak dan menambah penghasilan, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.

Dengan tingginya minat anak muda, angkringan di kawasan ZA Pagar Alam–Kedaton diprediksi akan terus berkembang dan menjadi salah satu ikon kuliner malam yang melekat dengan kehidupan mahasiswa di Kota Bandar Lampung. [Adm]

Harga Emas Antam Naik Rp 16.000, Kini Tembus Rp 2,5 Juta per Gram

Jakarta — Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam terpantau menguat pada perdagangan Jumat…

Wall Street Ditutup Melemah di Akhir 2025, Namun Cetak Kinerja Tahunan Positif

New York — Indeks utama saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan…

Kemendag Naikkan HPE Konsentrat Tembaga dan Emas Awal Januari 2026

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan kenaikan Harga Patokan Ekspor (HPE) konsentrat tembaga dan emas untuk periode awal…

Karantina Kepri Fasilitasi Ekspor 129,4 Ton Santan Kelapa Beku Bintan ke China

Riau – Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kepulauan Riau (Karantina Kepri) memfasilitasi ekspor 129,4 ton…

Saham Pop Mart Anjlok 6,2 Persen, Sentimen Melemah Usai Permintaan Labubu Menurun

Hong Kong – Saham Pop Mart International Group Ltd mencatat penurunan terbesar dalam hampir tiga minggu…

Bioskop XXI Hadir di Chandra Metro, Bantu Perekonomian Menengah

Metro | Walikota Metro Bambang Iman Santoso meresmikan pusat hiburan modern Bioskop XXI Chandra Metro di lantai 3 Chandra Superstore, Selasa (16/12/2025).

Selain Wali Kota Metro, Bambang Iman Santoso, tampak hadir juga Wakil Walikota M. Rafieq Adi Pradana, jajaran pejabat pemkot, Direktur Chandra Metro Iyan Eka Chandra, dan owner Alexus Gunawan.

Dikatakan dalam sambutan Walikota mengungkapkan kebanggaannya atas kehadiran bioskop pertama dengan standar nasional di kota Metro dan kehadiran bioskop ini lebih dari sekadar tempat nonton.

“Ini adalah sarana hiburan yang juga mendidik, meningkatkan kualitas hidup, dan mendukung UMKM lokal,” ujar Bambang.

Dia juga menyoroti manfaat ekonomi yang dibawa kehadiran bioskop ini, mulai dari penyerapan lebih dari 400 tenaga kerja lokal hingga potensinya dalam menarik wisatawan.

Sementara itu, Alexus Gunawan selaku pemilik Chandra Metro mengungkapkan bahwa kerja sama dengan pemerintah daerah menjadi kunci terwujudnya proyek ini.

“Kami dan pemerintah saling mendukung. Harapan kami, bioskop ini ikut membangkitkan ekonomi kota dan memberikan tontonan berkualitas bagi masyarakat,” kata Alexus.

Dengan layar yang memutar film-film terbaru dan fasilitas yang nyaman, Bioskop XXI Chandra Metro diharapkan menjadi destinasi baru bagi keluarga, remaja, dan komunitas film di Metro dan sekitarnya.

Pembukaan ini juga disertai doa bersama untuk korban bencana di beberapa wilayah Sumatra, mengingatkan akan pentingnya solidaritas di tengah kegembiraan. | (Rio)