Tak hanya sektor BBM, pelemahan rupiah juga disebut membebani biaya produksi listrik nasional. Sekitar 40 persen biaya pembangkitan listrik PT PLN masih berbasis dolar AS sehingga depresiasi rupiah otomatis memperbesar biaya operasional dan kompensasi pemerintah.
Sementara itu, Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, memperkirakan harga keekonomian Pertamax saat ini sudah menembus Rp17.080 per liter dan Pertalite sekitar Rp16.968 per liter. Angka tersebut jauh di atas harga jual yang masih ditahan pemerintah melalui PT Pertamina (Persero).
Ia menghitung total beban kompensasi harian untuk BBM jenis Pertalite dan Pertamax dapat mencapai Rp653,6 miliar per hari atau setara Rp238,6 triliun per tahun.
Selain tekanan kurs, potensi gangguan geopolitik global seperti konflik di Timur Tengah dan ancaman penutupan Selat Hormuz juga disebut dapat memperparah lonjakan harga minyak dunia dan memperbesar tekanan terhadap APBN Indonesia.
