Berita Indonesia dan Internasional Terkini

BEM Universitas Malahayati Gelar Diskusi Publik tentang Pencegahan Radikalisme di Kampus

Bandar Lampung — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Malahayati Lampung menggelar diskusi publik bertema “Penguatan Peran Kampus sebagai Benteng Ideologi Bangsa: Strategi Intelektual Mencegah Radikalisme dan Terorisme di Perguruan Tinggi”, Selasa (28/1/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Gedung MCC Universitas Malahayati, Bandar Lampung tersebut diikuti sekitar 100 peserta yang berasal dari Aliansi BEM se-Provinsi Lampung serta Pok Cipayung Plus Kota Bandar Lampung.

Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Lampung Prof. Dr. H. Moh. Baharuddin, M.A., perwakilan Kanwil Kemenag Provinsi Lampung Mirza Pahlevi, Kasat Intel Polresta Bandar Lampung Kompol Andi Yunara, serta perwakilan Yayasan Mangkubumi Putra Lampung Sulthon Arifudin.

Dalam pemaparannya, Sulthon Arifudin menjelaskan bahwa radikalisme sering kali lahir dari pola pikir yang kaku, tertutup, serta menolak keberagaman. Ia menilai mahasiswa sebagai generasi muda berada pada fase pencarian jati diri, sehingga berpotensi menjadi sasaran penyusupan ideologi ekstrem.

“Kampus harus menjadi ruang aman untuk menanamkan nilai toleransi, literasi digital, serta penguatan wawasan kebangsaan,” ujar Sulthon.

Ia menegaskan, mahasiswa merupakan calon pemimpin masa depan yang harus dijaga dari paparan paham radikal.

“Jika mahasiswa terpapar radikalisme, maka masa depan bangsa juga terancam,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua FKUB Provinsi Lampung Prof. Baharuddin menekankan pentingnya keseimbangan antara kebebasan beragama dan sikap toleransi. Menurutnya, intoleransi dan fanatisme sempit menjadi pintu masuk berkembangnya radikalisme yang dapat berujung pada aksi terorisme.

“Moderasi beragama, dialog lintas iman, serta penegakan hukum yang adil adalah kunci utama dalam mencegah radikalisme,” katanya.

Mirza Pahlevi dari Kanwil Kemenag Provinsi Lampung menambahkan bahwa mahasiswa merupakan kelompok strategis dalam upaya pencegahan radikalisme. Ia mendorong penguatan nilai Pancasila, NKRI, serta literasi digital agar mahasiswa mampu menyaring informasi, terutama dari media sosial.

“Mahasiswa harus memiliki daya kritis agar tidak mudah terpengaruh narasi ekstrem,” ujarnya.

Dari sisi keamanan, Kompol Andi Yunara mengungkapkan bahwa di wilayah Bandar Lampung terdapat puluhan individu yang masuk dalam pengawasan terkait jaringan radikal dan terorisme. Ia menjelaskan bahwa kelompok radikal kerap menyasar mahasiswa melalui kajian tertutup, pendekatan personal, hingga propaganda digital.

“Karena itu kampus perlu memiliki sistem deteksi dini, regulasi yang tegas, serta mendorong mahasiswa dan dosen menjadi agen moderasi,” jelasnya.

Melalui diskusi ini, BEM Universitas Malahayati berharap perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat keilmuan, tetapi juga berperan sebagai benteng ideologi bangsa dengan menanamkan nilai toleransi, moderasi beragama, dan semangat kebangsaan di kalangan mahasiswa.

Polresta Bandar Lampung Dukung Instruksi Gubernur, Terapkan Kamis Beradat

Bandar Lampung — Polresta Bandar Lampung menyatakan dukungan penuh terhadap instruksi Gubernur Lampung mengenai pelaksanaan program Kamis Beradat di lingkungan pemerintahan, pendidikan, serta masyarakat luas.

Dukungan tersebut disampaikan langsung oleh Kapolresta Bandar Lampung, Kombes Pol Alfret Jacob Tilukay, saat memimpin apel pagi pada Kamis (29/1/2026).

Sebagai tindak lanjut, Kapolresta memerintahkan seluruh jajaran untuk turut menjalankan kebijakan tersebut, salah satunya melalui penggunaan bahasa Lampung di lingkungan kantor, serta mengenakan batik Lampung, khususnya bagi petugas pelayanan publik setiap hari Kamis.

“Kami berharap seluruh personel mendukung penuh pelaksanaan Kamis Beradat sebagai bentuk komitmen dalam melestarikan budaya daerah,” ujar Kombes Pol Alfret.

Menurutnya, program Kamis Beradat tidak hanya sebatas penggunaan atribut adat atau pakaian tradisional, melainkan juga menjadi sarana pembelajaran dan penguatan identitas budaya Lampung.

“Kamis Beradat bukan hanya tentang penggunaan atribut adat, tetapi juga sebagai media pembelajaran budaya. Harapannya nilai-nilai luhur adat Lampung dapat terus dilestarikan,” tambahnya.

Kapolresta menilai penerapan budaya lokal di lingkungan kerja akan menumbuhkan rasa bangga terhadap jati diri daerah sekaligus mempererat persatuan masyarakat Lampung yang majemuk.

“Filosofinya seperti kita kembali ke akar. Kita menjiwai hal tersebut dalam pelaksanaan tugas. Harapannya budaya, paling tidak bahasa Lampung, tidak hilang dan bisa berjalan secara berkelanjutan,” kata Alfret.

Ia juga menekankan bahwa penggunaan batik Lampung bukan hanya identitas visual, namun merupakan bentuk nyata dukungan Polresta terhadap pengembangan produk budaya lokal.

Program Kamis Beradat sendiri merupakan tindak lanjut dari Instruksi Gubernur Lampung (Ingub) Nomor 4 Tahun 2025 tentang pelaksanaan Kamis Beradat di lingkungan pemerintahan dan instansi vertikal di Provinsi Lampung.

Melalui implementasi kebijakan ini, Polresta Bandar Lampung berharap dapat menjadi contoh bagi instansi lainnya dalam menjaga, melestarikan, serta mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik yang berkarakter budaya.

[Opini]: Kerjasama Media Berbasis Internet dengan Instansi Harus Diukur dengan Data Digital, Bukan Sekadar UKW dan Terverifikasi Dewan Pers

Ide Opini: Jeffri Noviansyah
Pemimpin Redaksi Lampung7.com

Dalam beberapa tahun terakhir, isu mengenai kerjasama antara perusahaan media dengan instansi pemerintah, lembaga, badan, maupun sektor swasta semakin sering diperbincangkan. Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah kecenderungan sebagian pihak menjadikan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan Verifikasi Dewan Pers sebagai syarat utama dalam menentukan apakah sebuah media atau jurnalis layak diajak bekerjasama.

Menurut saya, cara pandang seperti ini perlu diluruskan. Kerjasama publikasi antara media dan instansi seharusnya tidak hanya merujuk pada sudah atau belum seorang wartawan mengikuti UKW dan Terverifikasi Dewan Pers, melainkan harus lebih menitikberatkan pada hal yang jauh lebih substansial, yaitu: layak atau tidaknya karya jurnalistik yang dihasilkan serta sejauh mana media tersebut benar-benar dibaca dan berdampak di masyarakat.

UKW dan Verifikasi Dewan Pers Penting, Tapi Bukan Ukuran Tunggal

Kerjasama Media Berbasis Internet dengan Instansi Harus Diukur dengan Data Digital, Bukan Sekadar UKW dan Terverifikasi Dewan Pers
Foto: Istimewa

Tidak dapat dipungkiri, UKW dan Verifikasi Dewan Pers memang memiliki nilai penting sebagai salah satu instrumen peningkatan profesionalisme wartawan. UKW dan Verifikasi Dewan Pers adalah bagian dari prosedur administratif yang dibuat untuk mengukur pemahaman wartawan terhadap kode etik, teknik jurnalistik, serta standar profesi.

Namun, kita juga harus objektif bahwa UKW dan Terverifikasi Dewan Pers bukan satu-satunya indikator kualitas kerja seorang jurnalis dan perusahaan media. Dalam praktiknya, banyak wartawan yang belum UKW tetapi mampu menghasilkan karya jurnalistik yang sangat baik, mendalam, dan bermanfaat bagi publik. Sebaliknya, mungkin ada juga yang sudah UKW tetapi tidak menunjukkan produktivitas atau kualitas tulisan yang memadai.

Artinya, UKW dan Terverifikasi Dewan Pers tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar untuk menilai apakah seorang jurnalis atau media layak bekerjasama dengan instansi.

Yang Dibutuhkan Instansi Adalah Publikasi yang Terlihat dan Berdampak

Kerjasama Media Berbasis Internet dengan Instansi Harus Diukur dengan Data Digital, Bukan Sekadar UKW dan Terverifikasi Dewan Pers
Foto: Istimewa

Kerjasama publikasi pada dasarnya adalah hubungan profesional antara media dan pihak pemesan informasi. Instansi, lembaga, badan, maupun perusahaan yang melakukan kerjasama tentu memiliki tujuan utama: agar program kerja, kegiatan, dan kinerjanya diketahui oleh masyarakat luas.

Maka yang menjadi pertanyaan paling penting adalah:

  • Apakah berita atau konten yang dipublikasikan benar-benar dibaca orang?

  • Apakah media tersebut memiliki audiens nyata?

  • Apakah tulisan jurnalisnya mampu menjangkau publik secara luas?

Instansi tidak sekadar membutuhkan formalitas administratif, tetapi membutuhkan hasil nyata: publikasi yang efektif dan sampai kepada masyarakat.

Indikator Media Berbasis Internet Harus Diukur dengan Data Digital

Kerjasama Media Berbasis Internet dengan Instansi Harus Diukur dengan Data Digital, Bukan Sekadar UKW dan Terverifikasi Dewan Pers
Foto: Istimewa

Di era digital saat ini, media online dan streaming YouTube berkembang sangat pesat. Ukuran keberhasilan sebuah media bukan lagi sekadar selembar kartu pers atau sertifikat UKW dan Terverifikasi Dewan Pers, melainkan dapat diukur dengan indikator digital yang transparan dan sulit dimanipulasi.

Salah satu ukuran yang paling objektif adalah:

  • Google Adsense atau Platform Pembayar lain

  • Google Analytics

  • Monetisasi platform digital

  • Traffic pembaca yang terukur

Media yang sudah terverifikasi Google Adsense atau platform pembayar lainnya berarti telah memenuhi standar tertentu dari Google, mulai dari kualitas konten, kepatuhan kebijakan, hingga konsistensi pengunjung.

Jika sebuah media sudah menampilkan iklan Google secara aktif, itu artinya media tersebut:

  1. Memiliki pembaca yang nyata

  2. Tidak bisa “kongkalikong” traffic secara mudah

  3. Diakui sistem digital global

  4. Kontennya dinilai layak oleh algoritma dan kebijakan Google

Dengan kata lain, media yang terverifikasi Adsense atau platform pembayar lainnya dan terpantau Analytics adalah media yang memiliki audiens jelas, bukan sekadar klaim sepihak.

Verifikasi Dewan Pers Bersifat Legalitas, Bukan Jaminan Pembaca

Hal yang juga perlu dipahami adalah bahwa verifikasi Dewan Pers dan UKW lebih banyak berkaitan dengan aspek legalitas perusahaan pers dan prosedur formal.

Itu penting sebagai penguatan kelembagaan, namun bukan jaminan bahwa media tersebut:

  • Banyak dibaca

  • Berpengaruh

  • Menjangkau publik luas

  • Disukai pengiklan digital

Karena yang menentukan sebuah media hidup bukan hanya administrasi, tetapi kepercayaan publik, kualitas konten, dan daya jangkau informasi.

Kerjasama Seharusnya Mengutamakan Kualitas Tulisan dan Kepercayaan Publik

Kerjasama Media Berbasis Internet dengan Instansi Harus Diukur dengan Data Digital, Bukan Sekadar UKW dan Terverifikasi Dewan Pers
Foto: Istimewa

Instansi sebagai pemesan publikasi tentu membutuhkan media yang mampu menyampaikan informasi secara menarik, profesional, dan sampai kepada masyarakat.

Maka ukuran utama kerjasama seharusnya adalah:

  • Tulisan yang bagus dan berkualitas

  • Konten yang informatif dan etis

  • Media yang punya pembaca nyata

  • Media yang memiliki sistem digital terukur

  • Media yang disukai pengiklan seperti Google Adsense atau platform pembayar lain

Jika pengiklan global seperti Google saja percaya dan memasang iklan di media tersebut, maka itu menunjukkan bahwa media tersebut memang aktif, kredibel secara sistem digital, dan memiliki audiens.

Pada akhirnya, pemesan pun akan merasa puas karena publikasi yang dilakukan benar-benar terlihat dan dibaca masyarakat luas.

Jangan Terjebak Formalitas, Utamakan Manfaat

Saya ingin menegaskan bahwa UKW dan verifikasi Dewan Pers bukan hal yang harus ditolak. Itu bagian dari tata kelola pers yang baik. Namun dalam konteks kerjasama publikasi, instansi tidak boleh hanya terpaku pada prosedur administratif semata.

Kerjasama media harus didasarkan pada substansi: kualitas karya jurnalistik dan efektivitas jangkauan publikasi.

Karena tujuan utama dari sebuah publikasi adalah sampai kepada masyarakat, bukan hanya sekadar memenuhi syarat administratif.

Tulisan yang baik, media yang aktif, pembaca yang nyata, serta sistem digital yang transparan seperti Google Adsense dan Google Analytics atau platform pembayar lainnya adalah ukuran modern yang lebih relevan dalam menentukan kelayakan kerjasama media saat ini.

Kunker Komisi V DPR RI, Gubernur Mirza Dorong Dukungan APBN untuk Infrastruktur dan Transportasi

Lampung – Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan sejumlah usulan konkret terkait pembangunan infrastruktur dan transportasi kepada…

Ramah Tamah Ketua MA RI di Lampung, Gubernur Mirza Tegaskan Penguatan Kolaborasi Lembaga

Lampung – Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menyambut kunjungan Ketua Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia, Prof. Dr. H.…

Petugas Haji Perempuan 2026 Meningkat, Capai 33 Persen dari Total PPIH

Jakarta — Jumlah Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) perempuan pada musim haji tahun 2026 mengalami peningkatan…

Rafieq : Modal Manusia Fokus Pada Individu, Sementara Modal Sosial Menjadi Kekuatan Masyarakat

Metro | Wakil Walikota Metro M. Rafieq Adi Pradana, menekankan pentingnya meningkatkan Penguatan Modal Manusia dan Modal Sosial Sebagai pondasi pembangunan ekonomi – sosial berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Wakil Walikota Metro saat musrenbang di Kecamatan Metro Timur, Kota Metro. Rabu (28/01/2026).

Menurut Rafieq, bahwa penguatan modal manusia berarti memastikan masyarakat sehat secara jasmani dan rohani, sehingga peran pemerintah menjadi sangat penting.

Wakil Walikota menjelaskan, dengan menjaga kesehatan dan mendapatkan layanan pengobatan merupakan syarat utama penguatan modal manusia.

“Modal manusia berfokus pada individu, sementara modal sosial menjadi kekuatan masyarakat. Jika keduanya terbangun dengan baik, maka pondasi pembangunan ekonomi dan sosial berkelanjutan dapat terwujud,” ucap Rafieq .

“Jika modal manusia dan modal sosial sudah kuat, maka kita bisa membangun pondasi ekonomi-sosial yang berkelanjutan,” tambahnya.

Lebih lanjut, tujuan utama dari tema Musrenbang tersebut adalah untuk mempersiapkan Kota Metro menghadapi berbagai persoalan ke depan agar tetap stabil dalam kondisi apapun.

“Kita harus mempersiapkan diri menghadapi masa depan Kota Metro. Dengan pondasi yang kuat, ketika terjadi guncangan apa pun, Metro tidak akan goyah dan masyarakat tetap memiliki keberlanjutan ekonomi dan sosial,” jelas Rafieq.

Sementara itu, Camat Metro Timur, Ferry Handono, mengatakan bahwa pelaksanaan tema Musrenbang memerlukan partisipasi aktif masyarakat, salah satunya melalui semangat gotong royong.

Ferry Handono menegaskan, bahwa sumber daya manusia merupakan faktor terpenting dalam pembangunan. Oleh karena itu, peran semua pihak, termasuk media, dibutuhkan untuk membantu menyosialisasikan program-program dan menyampaikan berbagai persoalan yang ada di Kecamatan Metro Timur.

Pemerintah daerah, lanjut Ferry, akan terus memperkuat seluruh unsur dan elemen masyarakat agar manfaat pembangunan tetap dirasakan meskipun di tengah keterbatasan anggaran.

“Relawan BPBD, forum anak, karang taruna, RT dan RW, LKK, hingga posyandu harus terus diperkuat. Dengan begitu, pemerintah tetap bisa berjalan dan masyarakat tetap merasakan hasil pembangunan,” pungkas Ferry. | (Rio.7).

Pemkab Lampung Selatan Siap Luncurkan Tiga Inovasi Strategis: Hallo Lamsel, L-Betik, dan Desa HELAU

Lampung – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan tengah bersiap meluncurkan tiga program inovasi strategis, yakni Hallo Lamsel,…

Pemerintah Kota Bandar Lampung Dorong Optimalisasi Penagihan PBB-P2

Lampung – Wakil Wali Kota Bandar Lampung, Hi. Dedy Amarullah, secara resmi membuka kegiatan Penyampaian Surat…

Babinsa Gunung Agung Pantau Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Masjid Istiqomah

BANDAR LAMPUNG – Babinsa Kelurahan Gunung Agung Koramil 410-05/TKP, Sertu Zainal Abidin, melaksanakan pemantauan kegiatan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW Tahun 1447 H/2026 M yang diikuti oleh personel Makodim dan Koramil jajaran Kodim 0410/KBL.

Kegiatan tersebut digelar pada Rabu (28/1) mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, bertempat di Masjid Istiqomah, Jalan Pangeran Mangkubumi, RT 06 Lingkungan I, Kelurahan Gunung Agung, Kecamatan Langkapura, Kota Bandar Lampung.

Peringatan Isra Mi’raj tahun ini mengusung tema “Meneladani Akhlak Mulia Rasulullah SAW Membentuk Karakter Prajurit yang Prima, Guna Menuju Indonesia Maju”. Tausiah disampaikan oleh Ustadz Drs. KH. Ahmad Yani, M.Ag., yang menekankan pentingnya penguatan akhlak dan nilai-nilai keimanan dalam mendukung pelaksanaan tugas prajurit.

Sekitar 80 jamaah hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Dandim 0410/KBL Kolonel Arm Roni Hermawan, S.H., M.M., para Danramil jajaran Kodim 0410/KBL, prajurit Kodim 0410/KBL, Babinsa Gunung Agung, serta personel dan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kodim 0410/KBL.

Kegiatan peringatan Isra Mi’raj ini berlangsung dengan tertib, aman, dan lancar sebagai bagian dari pembinaan rohani prajurit, serta ditutup pada pukul 09.30 WIB.