Pemkab Lampung Selatan Telusuri Sejarah Sumur Kumbang, Persiapkan Tradisi Ruwat Bumi 2026

LAMPUNG SELATAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan menelusuri jejak sejarah Situs Sumur Kumbang di Desa Sumur Kumbang, Kecamatan Kalianda, sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan tradisi Ruwat Bumi 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Juli 2026.
Langkah tersebut menjadi bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menjaga, melestarikan, sekaligus memperkenalkan warisan sejarah dan budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun kepada masyarakat.
Penelusuran sejarah dilakukan melalui kunjungan langsung ke situs Sumur Kumbang pada Selasa (21/7/2026). Kegiatan dipimpin Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab Lampung Selatan, Darmawan, didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Selatan, I Nyoman Setiawan, bersama jajaran perangkat daerah terkait.
Desa Sumur Kumbang dikenal sebagai salah satu desa adat di lereng Gunung Rajabasa yang hingga kini masih mempertahankan tradisi leluhur. Setiap tahun masyarakat menggelar upacara adat Ruwat Bumi sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap pesan para leluhur.
Tradisi tersebut melibatkan tokoh adat, sesepuh, pemerintah desa, hingga generasi muda sebagai upaya menjaga identitas budaya masyarakat setempat.
Legenda Mata Air Sumur Kumbang
Di balik lebatnya kawasan Gunung Rajabasa, terdapat sebuah mata air yang dikenal dengan nama Sumur Kumbang. Menurut cerita yang diwariskan secara lisan, mata air tersebut muncul dari sela batu setelah ditancapkannya tongkat pusaka oleh tokoh adat Syekh Mansyur sekitar tahun 1745.
Sesepuh Desa Sumur Kumbang, Abah Santika, menuturkan bahwa peristiwa itu bermula ketika Syekh Mansyur melakukan perjalanan bersama cucunya.
Di tengah perjalanan, sang cucu kehausan. Untuk menolongnya, Syekh Mansyur menancapkan tongkat pusakanya ke sebuah batu besar. Saat tongkat itu dicabut, memancarlah air jernih yang terus mengalir hingga sekarang.
“Disepak-sepak tongkatnya, keluar air. Dicabut, mengalir airnya. Lalu diminum airnya oleh cucunya,” tutur Abah Santika.
Menurutnya, batu tempat keluarnya mata air masih tetap terjaga hingga saat ini. Nama Sumur Kumbang dipercaya berasal dari banyaknya tanaman berbunga atau “kembang” yang dahulu tumbuh di sekitar sumber mata air tersebut.
Keunikan lainnya, debit air Sumur Kumbang disebut tetap stabil sepanjang tahun dan tidak pernah mengering meski musim kemarau panjang melanda kawasan Gunung Rajabasa.
Tongkat Pusaka Berusia Ratusan Tahun
Selain mata air bersejarah, situs Sumur Kumbang juga menyimpan peninggalan budaya berupa Tongkat Pusaka yang hingga kini masih dirawat oleh Abah Santika sebagai pewaris adat.
Tongkat kayu yang diperkirakan telah berusia lebih dari dua abad tersebut memiliki rongga di bagian dalam yang menyimpan sebilah keris pusaka dan hingga kini tetap terpelihara sebagai simbol warisan leluhur masyarakat Sumur Kumbang.
Berdasarkan penuturan masyarakat adat, kawasan Sumur Kumbang juga memiliki nilai sejarah dalam pembentukan wilayah permukiman. Pada sekitar tahun 1820 disebut terjadi penyerahan hak pengelolaan wilayah dari seorang pemimpin bergelar Syahbandar Lampung kepada tokoh lokal bernama Jaya bergelar Saling.
Peristiwa itu diyakini menjadi simbol lahirnya tata kelola wilayah yang damai sekaligus memperkuat amanat adat untuk menjaga kelestarian kawasan Sumur Kumbang.
Sejak saat itu, masyarakat memegang teguh berbagai pantangan adat, termasuk larangan merusak kawasan tanpa izin dari keturunan pemangku adat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan upaya menjaga keseimbangan alam.
Karena memiliki nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang tinggi, pemeliharaan Situs Sumur Kumbang beserta Tongkat Pusaka terus diwariskan secara turun-temurun melalui garis keturunan laki-laki keluarga pemangku adat.
Melalui penelusuran sejarah tersebut, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan berharap pelaksanaan Ruwat Bumi 2026 tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat pelestarian sejarah lokal sekaligus mempromosikan kekayaan budaya Lampung Selatan sebagai daya tarik wisata budaya.
